Upaya membangun kampus berkelanjutan dapat dimulai dari fasilitas yang digunakan setiap hari. Toilet, misalnya, memiliki peluang untuk dikelola dengan lebih efisien sekaligus menjadi tempat penyampaian informasi kesehatan. Pendekatan tersebut diterapkan melalui Toilet Pintar Undika, fasilitas yang menggabungkan pengaturan pencahayaan otomatis dengan edukasi mengenai kecukupan cairan tubuh.
Dua komponen utamanya adalah sensor gerak untuk mengendalikan lampu dan poster yang menampilkan informasi tentang warna urine. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi hadir untuk mendukung kebutuhan pengguna dalam satu ruang. Sensor membantu mengatur pemakaian listrik, sedangkan poster mengingatkan mahasiswa dan staf agar lebih memperhatikan kebiasaan menjaga kesehatan.
Konsep ini memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas fasilitas kampus tidak selalu membutuhkan perubahan berskala besar. Penyesuaian pada pencahayaan dan penempatan informasi yang relevan dapat memberi fungsi tambahan pada ruang yang sudah tersedia. Toilet pun menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan kampus yang memperhatikan sumber daya dan kesejahteraan penggunanya.
Toilet Pintar Undika Manfaatkan Sensor untuk Mengatur Pencahayaan
Pengaturan lampu dilakukan melalui sensor gerak yang dipasang di langit-langit toilet. Ketika gerakan pengguna terdeteksi, sistem menyalakan lampu secara otomatis. Lampu kemudian dipadamkan ketika tidak ada lagi aktivitas yang terdeteksi, mengikuti pengaturan perangkat. Mekanisme ini membantu menyesuaikan pencahayaan dengan penggunaan ruangan.
Otomatisasi tersebut mengurangi ketergantungan pada pengguna untuk menyalakan dan mematikan sakelar secara manual. Pada fasilitas bersama, lampu berpotensi tetap menyala setelah pengguna terakhir meninggalkan ruangan. Kehadiran sensor membantu mengurangi pemakaian listrik yang tidak diperlukan dalam kondisi tersebut.
Prinsip yang diterapkan adalah menggunakan energi sesuai kebutuhan. Lampu tetap menyediakan penerangan ketika toilet dipakai, sementara waktu menyala yang tidak diperlukan dapat dikurangi. Dengan pengaturan yang sesuai, sistem seperti ini berpotensi mendukung efisiensi operasional tanpa mengabaikan fungsi utama pencahayaan bagi pengguna.
Penerapan Toilet Pintar Undika memiliki keterkaitan dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau, terutama pada aspek efisiensi energi. Pemanfaatan perangkat kendali otomatis juga sejalan dengan SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur. Teknologi diintegrasikan ke dalam fasilitas bangunan untuk membantu pengelolaannya berjalan lebih efisien.
Dalam konteks lingkungan, pengurangan konsumsi listrik yang tidak diperlukan dapat mendukung arah SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Kontribusinya terletak pada upaya menekan kebutuhan energi harian, dengan dampak emisi yang bergantung pada sumber listrik dan besarnya penghematan. Karena itu, manfaat lingkungan perlu dipahami sebagai potensi yang mengikuti efisiensi penggunaan energi.
Pendekatan tersebut juga selaras dengan Asta Cita kedua yang mencakup kemandirian energi dan pengembangan ekonomi hijau. Pengelolaan listrik pada fasilitas kampus menjadi contoh penerapan prinsip efisiensi dalam skala operasional. Kebiasaan memperhatikan kebutuhan energi dapat dimulai dari ruangan yang paling sering digunakan.
Edukasi Hidrasi dan Penerapan Keilmuan Lintas Program Studi
Selain mengatur pencahayaan, Toilet Pintar Undika menyediakan poster edukasi pada pilar toilet. Media visual ini menampilkan informasi kepekatan warna urine sebagai petunjuk awal untuk memperhatikan kecukupan cairan tubuh. Penempatannya membuat pesan kesehatan dapat dijumpai dalam aktivitas sehari-hari, tanpa harus menunggu kegiatan penyuluhan khusus.
Informasi tersebut ditujukan untuk membangun kesadaran mengenai hidrasi. Warna urine dapat menjadi salah satu petunjuk, tetapi tidak cukup untuk memastikan tingkat dehidrasi atau mendiagnosis gangguan ginjal. Makanan, obat, dan suplemen vitamin juga dapat memengaruhi warnanya. Dengan pemahaman ini, poster berfungsi sebagai sarana edukasi dan pengingat kebiasaan sehat.
Kehadiran informasi kesehatan di ruang publik kampus berkaitan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera. Mahasiswa maupun staf diajak memberi perhatian pada kebutuhan tubuh di tengah aktivitas mereka. Penyampaian pesan melalui media yang mudah dijumpai juga dapat dikaitkan dengan SDG 4, karena pengetahuan praktis disampaikan di luar ruang kelas.
Dari sisi Asta Cita, pendekatan ini selaras dengan poin keempat mengenai penguatan sumber daya manusia, termasuk aspek kesehatan dan pendidikan. Perhatian terhadap kesejahteraan pengguna serta pengelolaan lingkungan kampus juga dapat dihubungkan dengan semangat keselarasan kehidupan pada poin kedelapan. Fasilitas bersama menjadi ruang untuk menerapkan nilai tersebut dalam keseharian.
Perpaduan teknologi dan edukasi visual ini mencerminkan penerapan keilmuan lintas program studi. Otomatisasi lampu berkaitan dengan kompetensi S1 Teknik Komputer dan S1 Sistem Informasi dalam pengembangan perangkat pintar serta sistem kontrol bangunan. Pengetahuan tersebut mendukung pengaturan perangkat agar dapat merespons kondisi penggunaan ruangan.
Sementara itu, penyusunan poster kesehatan berkaitan dengan keahlian S1 Desain Komunikasi Visual. Pengolahan pesan, pemilihan elemen visual, dan penataan informasi membantu membuat materi lebih mudah dibaca serta dipahami. Kejelasan komunikasi menjadi bagian penting agar informasi kesehatan tidak sekadar terpasang, tetapi dapat dimengerti oleh pengunjung.
Toilet Pintar Undika memperlihatkan peluang mengembangkan fasilitas kampus melalui teknologi sederhana dan komunikasi yang tepat. Lampu otomatis membantu membatasi penggunaan energi yang tidak diperlukan, sementara poster menghadirkan pengingat untuk memperhatikan kecukupan cairan tubuh. Keduanya mendukung pengelolaan ruang bersama yang lebih efisien dan peduli pada kebutuhan penggunanya.




Leave a Reply